CurhatKita |
| Pelajaran Berharga dari Nenek “Berbibir Merah” di Lereng Merapi Posted: 16 Mar 2012 03:08 PM PDT Oleh Tresya Agnashila Aku sangat tertarik, dengan beberapa ide yang dia berikan. Dia memberikan dua pilihan, yaitu pergi ke panti asuhan dan bermain bersama anak-anak di sana atau pergi ke pedesaan dan melakukan aktifitas dengan gadis-gadis desa yang tentunya nggak biasa aku lakukan. Kebetulan untuk pilihan pertama, sudah bukan hal baru dalam kehidupanku, karena alhamdulillah, sejak 5 tahun terakhir atau lebih tepatnya setelah aku mendapatkan pekerjaan dan berpenghasilan sendiri, aku ikut mengelola suatu yayasan panti asuhan. Jadi bagiku, bermain dan berbagi bersama anak-anak panti adalah hal yang biasa aku lakukan. Tiba-tiba aku teringat, akan keadaan penduduk di sekitar gunung merapi yang kebetulan letaknya tidak jauh dari tempat di mana aku tinggal. Dan langsung terbesit dalam pikiranku, akhir pekan nanti akan aku habiskan waktu untuk mengunjungi saudara-saudaraku yang ada di sekitar merapi. Berkunjung ke Lereng Merapi Akhir pekan pun tiba. Beruntung ada dua sahabatku yang mau menemaniku kesana. Aku berangkat dari rumah sekitar pukul 05.00 pagi. Aku sengaja memilih waktu pagi hari, karena aku ingin mendapatkan dan menikmati dingin serta sejuknya udara pegunungan di pagi hari. Dan benar saja, bukan hanya dingin dan sejuk yang aku dapatkan, tapi hampir setengah dari tubuh ini beku, mobil pun hampir tak bisa jalan karena jalanan masih tertutup oleh kabut. Kami putuskan untuk berhenti di pangkalan bus pariwisatayang saat itu masih sangat sepi. Belum ada satu kendaraan bahkan satu orangpun yang berhenti atau melintasi tempat itu. Meskipun hawa dingin seakan menusuk tulang, tapi kami bertiga justru penasaran, ingin terus keatas mencoba sekuat apa tubuh kita menahan dinginnya angin pegunungan. Akhirnya mobil kita parkir di pangkalan bus tadi dan kita nekat berjalan kaki tanpa alas kaki naik ke puncak yang lebih tinggi. Sambil berlari-lari kecil dengan tujuan mencari keringat agar tubuh menjadi hangat. Padahal sebenernya nggak ngefek juga sih... hehehe. Sekitar kurang lebih satu kilometer perjalanan, kita sampai di puncak gardu pandang merapi, kabut sudah mulai turun, dan Subhanallah.... kita di beri hadiah oleh Allah SWT, kemegahan pemandangan alam pegunungannya dipagi hari, sejuknya udara yang ketika menghirup terasa kesejukannya masuk dari hidung dan menyelinap hingga ke otak. Benar-benar berasa kayak komputer yang abis di restart....! (ga ada hubungannya deh!) Menikmati Kemegahan Alam Lereng Merapi Sejenak kita diam sambil ngos-ngosan karena kecapekan. Kita nemuin sungai kecil di bawah pohon-pohon pinus. Kita coba mendekat untuk cuci tangan dan kaki. Tapi setelah kita sampai di aliran air kecil itu, subhanallah, kita lihat lagi kemegahan dari allah... airnya. Benar-benar jernih, bening, bahkan terlihat berkaca-kaca. Ada hiasan rumput-rumput hijau yang bergoyang di dalamnya dan batu-batu hitam yang tertata rapi di sana. Alhasil bukannya cuci kaki dan tangan, tapi kita malah buru-buru pengen mencicipi kesegaran air itu. Setelah aku mencoba untuk mengambil air itu dengan tanganku... Bbbbrrrrrrrr....... Dinginnya maaaaaaaaaaaaak. Frezer dirumah aja kalah ama ni air.. hahaha... dingin banget. Waktu aku coba buat minum tu air, enggak seger lagi rasanya, tapi beku sampe ke otak... xixixixi. Tapi subhanallah, lagi-lagi nggak ada kata lain yang bisa aku sebut, kecuali memuji keagungan Allah. Aku lihat jam, sudah menunjukan pukul 06.30. Tapi suasana di sana masih hening, masih sangat sepi dan belum ada tanda-tanda kehidupan lain, selain suara burung-burung di atas langit. Kita bertiga akhirnya duduk-duduk dipinggir jalan, sambil menikmati pemandangan alam dan menghirup oksigen pegunungan yang benar-benar menyegarkan. Sekitar pukul 07.00 baru terlihat ada kendaraan yang melintas. Dan setelah itu muncul beberapa warga desa sekitar yang mungkin akan pergi ke kebun mereka memanen dan merawat tanaman-tanaman mereka. Bertemu Petani Desa yang Ramah Puas beristirahat, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk jalan-jalan lagi di sekitar sana. Kami mencari pemukiman warga dan alhamdulillah, diperjalanan kami bertemu dengan beberapa penduduk yang sedang memanen hasil tanaman mereka. Ada banyak perkebunan di sana dan kebanyakan mereka menaman cabai, kubis, sawi, tomat, daun bawang dan seledri. Kita berjabat tangan dan mereka menanyakan asal kita. Sempat ngobrol beberapa saat, kita mohon ijin untuk membantu mereka memanen cabai, dan dengan senang hati pula mereka mengijinkan serta mengajari kita bagaimana caranya memanen cabai. Seru banget. Gak cuma ibu-ibu dan cabai yang kita temui di sana, tapi ulat bulu, serangga, kotoran ayam, kotoran sapi (pupuk kandang) dan rumput-rumput berduri juga ikut menyambut kedatangan kita. Tapi apalah arti itu semua, justru dengan adanya mereka, menambah kecerian dan pengalaman buat kita. Sungguh, aku terpikat oleh nenek satu ini, meski usianya sudah sangat banyak, kalo menurutku sih sekitar 70 tahunan, tapi semangat serta keceriaannya tiada batas. Kalo aja ada penghargaan nenek ter "ceria" di dunia, pasti dia dapet juara pertama nya... wkwkwkwk.... Tanpa canggung dia ikut gabung sama kita dan itu sangat-sangat menambah keceriaan serta kehebohan suasana pagi di pegunungan. Kemudian dia menawarkan kita untuk mampir ke rumahnya, yang kebetulan tak jauh juga dari tempat itu. Lalu kita berjalan bersama, sambil bercerita dan tibalah kita di rumahnya. Ada satu anak perempuannya dan tiga orang cucunya. Mereka juga tak kalah ramahnya dengan nenek itu. Menikmati Keripik Singkong di Rumah Sang Nenek Sejenak aku merenungkan, sungguh mulia hati penduduk di sini, terutama nenek dan keluarganya ini. Mereka menyambut kita, orang baru yang sama sekali belum mereka kenal. Bahkan kedatangan kita di sinipun tidak ada urusannya dengan mereka, tapi mereka tetap menyambut kita dengan penuh keramahan dan kehangatan. Sangat berbeda dengan cara pandang rekan-rekan kita yang ada di kota ketika mereka menemui orang baru, alih-alih ramah, yang ada hanya prasangka buruk, curiga dan curiga. Yang paling membuatku terharu, mereka benar-benar menganggap tamu adalah raja. Dengan keterbatasan mereka, ketika kami datang, apapun yang mereka punya mereka coba hidangkan. Sungguh, ceriping ketela dan teh yang tak seberapa manis, nikmatnya melebihi donut J'co atau Orange juice yang ada di mall-mall. Cukup lama kami singgah di rumah nenek, kami ikut membantu nenek memanen daun bawang untuk dijual kembali di pasar. Kulihat, temanku asyik meminjamkan HP nya kepada cucu-cucu nenek tadi. Mereka terlihat sangat senang, melihat dan mencoba mainan baru yang mungkin selama ini belum pernah mereka lihat. Pelajaran Ikhlas dan Syukur dari Kesahajaan Keluarga Petani Disela-sela perbincangan kami, aku bertanya, di mana kakek dan suami dari anaknya? Nenekpun bercerita, bahwa kakek sudah meninggal sekitar 30 tahun yang lalu, dan suami dari anaknya menjadi buruh bangunan di Jakarta. Biasanya dia pulang setahun sekali ketika lebaran. Dan setiap bulan dia hanya mampu mengirimi istri dan ketiga anaknya uang Rp.250.000,-. Aku sangat kaget mendengar nominal tersebut, tapi dengan ikhlasnya mbak Yanti, anak dari nenek itu berkata, "Alhamdulillah cukup mbak, berapa aja saya dikirimi yang penting suami saya di sana sehat dan bisa makan setiap hari. Kalo kami di sini gampang, banyak sayuran yang bisa kami petik, kami masak dan kami makan. Kalo bapaknya anak-anak di sana kan nggak punya kebun mbak, jadi makanan harus beli." Subhanallah, betapa besar hati mbak Yanti, dengan ikhlasnya dia menjaga, merawat ibu serta ketiga anaknya dengan Rp. 250.000,- per bulan. Nggak bisa aku bayangin kalo aku di posisi mbak Yanti. Dengan gajiku saat ini aja, kadang aku masih merasa kurang, tapi dia benar-benar seorang wonder woman! Sekitar pukul 10.00 pagi, kita baru sadar kalo kita kelaparan. Dari subuh banyak sekali yang sudah kita kerjakan dan otomatis banyak juga energi yang kita keluarkan. Kita baru sadar juga kalo kita sudah meninggalkan mobil kita di pangkalan bus, yang kata si nenek kalo jam segini di sana dijadikan pasar kecil oleh penduduk sekitar. Alamaaaaaaaaaaaak, jadi apa mobil kita di sana? Setelah puas bermain-main dan bersenda-gurau, akhirnya kami pamit untuk pulang. Kami diantar oleh nenek, anak dan cucu-cucunya sampai ke pangkalan bus. Dan alhamdulillah, mobil kita aman disana. Kita justru bertemu dengan pasar kecil, yang menyajikan sayur mayur yang masih sangat-sangat segar dan subhanaallah, harganya sangat-sangat muraaaaah. Mungkin karena memang ini adalah hasil panen sendiri, orang di sana juga belum tau harga-harga di pasaran. Sebagai ucapan terima kasih, kami bertiga berinisiatif untuk membelanjakan nenek dan anak cucunya sayur-mayur, lauk-pauk dan bahan pokok lainnya. Tidak banyak yang bisa kami berikan, tapi lagi-lagi kepolosan mereka dan tingginya rasa syukur mereka membuat kita jadi merasa, bahwa di mana rasa syukurku? Allah telah memberiku rejeki yang tak ternilai. Setiap bulan jutaan rupiah yang ia berikan padaku, setiap hari kesehatan dan kebahagiaan yang ia anugerahkan untukku, tapi masih saja aku ingin lebih dan lebih. Jarang sekali ucapan syukur terucap dari bibirku seperti rasa syukur nenek dan anaknya ketika menerima sembako dan sayur mayur dariku. Pulang dari Lereng Merapi, Membawa Kenangan Indah dan Bermakna Kawan, banyak sekali pelajaran dari perjalananku yang hanya beberapa jam ini. Terima kasih ya Allah, engkau berikan aku kenikmatan kedua bola mata, hingga aku bisa melihat betapa megahnya duniamu ini. Terima kasih ya Allah, engkau berikan aku anugerah kedua daun telinga, hingga aku bisa mendengar merdunya suara burung-burung dan gemericik air yang mengalir di sungai kecilmu. Terima kasih ya Allah, engkau berikan aku hidung, hingga aku bisa menikmati sejuknya oksigen dan segarnya embun pagi mu. Terima kasih ya Allah, engkau pertemukan aku dengan nenek beserta keluarganya, hingga banyak sekali pelajaran hidup yang bisa aku petik dari mereka. Aku lampirkan foto-fotoku bersama nenek, ibu-ibu, mbak Yanti beserta anak-anaknya. Tidak banyak yang bisa aku dokumentasikan karena keasyikan di sana. Dan HP ku pun dibuat mainan anak-anaknya mbak Yanti, jadi hanya beberapa foto yang bisa aku dapatkan. Guys, sekian pengalaman liburanku dalam rangka menghilangkan kejenuhan. Semoga cerita ini bisa menginspirasi kalian. Ketika merasa jenuh atau ingin mencari hal-hal baru dalam hidup, carilah tempat-tempat yang berkaitan langsung dengan alam. Karena kebesaran Tuhan terlihat melalui alam semesta ciptaan-Nya yang jauh lebih megah dibandingkan cafe-cafe atau club-club malam yang menawarkan sejuta hiburan. Sekian dari Tresya, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Cerita inspiratif ini dikutif dari penuturan Tresya di Forum Curhat. Foto by kampungjati7 & Tresya |
| Bagaimana Mengatasi Kejenuhan Rutinitas Kerja dengan Cara Sederhana namun Unik dan Berkesan Posted: 15 Mar 2012 07:56 PM PDT "Akhir-akhir ini aku merasa sangat jenuh dengan rutinitasku..."Demikian seorang gadis mengawali curhatnya di Forum Curhat. Tresya Agnashila, namanya. Dia merasa jenuh dengan rutinitas kerja yang menyita waktunya. Dia juga jenuh dengan acara-acara keluarga yang tak disukainya. Dia merasa tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Silakan simak curhat selangkapnya. Akhir-akhir ini aku merasa sangat jenuh dengan rutinitasku... Mungkin faktor pekerjaan yang sangat menumpuk dan banyaknya acara kantor yang sangat menyita waktuku yang membuatku merasa jenuh. Pukul 07.00 pagi, aku udah berangkat kantor dan pulang paling awal pukul 18.00. Sama sekali nggak ada waktu untuk bermain atau sekedar menghirup udara segar. Belum lagi di akhir pekan, selalu ada aja acara keluarga atau teman-teman yang kadang nggak sesuai dengan yang aku inginkan, tapi demi membahagiakan keluarga dan demi menjaga persahabatan, aku selalu mencoba untuk mengikuti keinginan mereka. Tapi hasilnya, pikiran dan diriku sendiri yang sekarang merasa JENUH. Aku ingin suasana baru, aku ingin bertemu dengan orang-orang baru dan hal-hal baru lainnya.... Adakah yang bisa kasih saran untuk kejenuhanku..:) Saran saya: Rutinitas memang pada titik tertentu bisa membuat jenuh. Makanya coba luangkan waktu untuk melakukan hal-hal baru dan menantang. Kata seorang motivator, "Keluarlah dari zona kenyamanan anda". Mengunjungi tempat-tempat yang belum dikunjungi atau melakukan aktivitas yang menantang. Tidak harus melakukan hal-hal yang berbahaya. Melakukan hal-hal positif untuk diri sendiri dan orang lain bisa membuat anda merasa "lebih hidup". Misalnya, berkunjung ke panti asuhan atau bertemu anak-anak jalanan dan mengajari mereka sebuah keterampilan. Bisa juga berkunjung ke sebuah desa, mencoba pekerjaan yang biasa perempuan desa lakukan. Tidak butuh biaya besar untuk melakukan hal-hal itu. Hanya butuh kemauan dan meluangkan waktu, ya kan? Tapi klo anda punya uang lebih, nggak ada salahnya ngasih hadiah (buku, alat tulis atau baju) untuk anak-anak yatim dan anak jalanan. Coba deh! Anda akan merasa "lebih hidup" dan tak lagi merasa terkungkung oleh rutinitas pekerjaan. Tanggapan Tresya Agnashila: Good Idea..... Sudah saya coba, dan memang benar.... kita bisa melihat dan menikmati sisi lain dari diri kita sendiri. Saya bisa mengeluarkan apa yang tidak bisa saya keluarkan di kantor. Saya bisa menjadi pribadi yang lebih natural. Menikmati kemegahan alam, merasakan kebahagiaan senyum tulus dari anak-anak yang belum merasakan beban tumpukan-tumpukan data yang harus dikerjakan. Mereka berlari, bermain air, bernyanyi, makan dan tidur seakan dunia ini tidak pernah berhenti. Dan ketika saya bertemu oleh seorang nenek & ibu-ibu di desa, di pagi hari mereka memanen kubis, sawi, cabai dan daun bawang. Tanpa alas kaki mereka berjalan dengan selendang kucel dan keranjang dari bambu. Dengan gigi yg agak menghitam, nenek itu menyapa saya dengan senyum penuh kehangatan. Meskipun kita tidak saling mengenal, dengan ramahnya dia mengajak saya mampir ke kebunnya dan menawarkan untuk minum teh di rumahnya. Sungguh, kepolosan mereka yang tak pernah memandang sebelah mata pada orang lain. Alih-alih sombong, rasa curiga terhadap orang baru pun sama sekali tak terlihat dari raut wajah mereka. Yang mereka tahu, tamu adalah raja, dan semua adalah saudara. Sungguh indah dunia ini, ketika bisa diisi oleh kesederhaan pola pikir mereka. Sahabatku Tarjum, terima kasih telah mengenalkanku pada dunia yang baru :) Catatan: Sebuah kebahagiaan yang tak ternilai bagi saya ketika saran atau nasihat yang saya sampaikan kepada seorang sahabat, dijalankan dan bisa membuat dia bahagia. Tresya, semoga engkau bisa menemukan indahnya warna-warni kehidupan di sepanjang perjalanan hidupmu. Warna-warni kehidupan yang akan membuatmu semakin dewasa, matang dan bijak. Sehingga engkau juga bisa menebarkan indahnya warna-warni kehidupan yang telah engkau temukan kepada sahabat-sahabatmu yang lain. Anda ingin membaca cerita Tresya ketika berkunjung ke sebuah desa di lereng gunung merapi dengan cuaca dingin membeku? Anda juga ingin melihat foto-foto Tresya yang cantik dan ceria saat bersama ibu dan nenek petani memetik cabai, kubis, sawi dan bertemu ulat bulu? Silakan baca cerita pengalaman Tresya di lereng Merapi, besok di blog ini. |
| You are subscribed to email updates from Curhatkita To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |

No comments:
Post a Comment