CurhatKita |
| You are subscribed to email updates from Curhatkita To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
CurhatKita |
| You are subscribed to email updates from Curhatkita To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
CurhatKita |
| Posted: 27 Aug 2011 01:30 PM PDT Curhatkita Oleh Tarjum Cerita sebelumnya... Biasanya ketika Jaka pamit pulang, Rina seperti enggan berpisah. Tapi kali ini beda! Sikap Rina biasa-biasa saja, bahkan seperti tak peduli. Lagi-lagi membuat tanda-tanya di hati Jaka. Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab terus menumpuk di pikiran Jaka. Ia belum menemukan petunjuk yang mengarah pada jawaban meyakinkan dari pertanyaannya. Namun ia bertekad, akan menyelidiki dan mencari tahu apa penyebab perubahan sikap Rina padanya. Jaka berpikir mungkin ada orang ketiga dalam hubungan mereka. Tapi, siapa orang ketiga itu? Ia belum punya gambaran yang jelas. Jaka akan mencoba mencari tahu dari teman-teman Rina. Teman-teman sekolah dan teman-teman dekatnya. Ada tiga orang teman sekolah Rina yang masih satu desa. Bahkan yang dua orang teman sekelas. "Tapi apakah mereka mau membuka rahasia temannya sendiri?" pikirnya. "Apa pun hasilnya, yang jelas aku harus mencoba dengan segala cara. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Rina." Menekuni hoby untuk mengalihkan fokus pikiran Agar tak terlalu fokus memikirkan sang kekasih. Jaka lebih banyak meluangkan waktu untuk menekuni hobynya, main bola voli dengan rekan-rekan setimnya. "Gak akan kubiarkan masalah cinta melemahkan pikiranku," gumamnya. "Masalah harus jadi motivasi bagiku untuk menjadi lebih baik." Selain bermain di lapangan bersama rekan-rekannya, Jaka juga suka berlatih sendiri. Melatih kekuatan dan ketahanan fisiknya dengan berlari ditengah sengatan terik matahari. Menyusuri jalan-jalan desa atau mengitari lapangan sepak bola. Untuk melatih kekuatan mentalnya, Jaka suka berlari melintasi keramaian seperti melewati perumahan atau pasar. Itu dilakukan atas instruksi pelatihnya. Untuk membiasakan diri mengatasi rasa malu dan canggung saat berada di tengah keramaian. jika sudah terbiasa dan merasa nyaman berada di keramaian, maka nantinya akan lebih tenang saat berada di arena permainan yang riuh oleh sorak-sorai supporter. Jika saat berlari terlintas wajah sang kekasih, Jaka akan mempercepat langkah kakinya. Sambil berlari menggenjot kekuatan fisiknya, ia terus memotivasi dirinya, ia harus menjadi lebih baik dan lebih baik lagi secara fisik dan mental. "Masalah apa pun, termasuk masalah cinta harus membuatku lebih tangguh fisik maupun mental. Aku tak akan membiarkan diriku menjadi lembek karena masalah cinta," gumamnya penuh semangat. Tak jarang Jaka menggenjot daya tahan fisiknya selama berjam-jam di tengah terik matahari, sampai energinya terkuras. Kalau sudah begitu biasanya ia akan berbaring terlentang di pinggir lapangan seperti orang yang kehabisan napas. Tak jarang ia sampai muntah dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk minuman keras. Itu artinya dia sudah melewati puncak ketahanan fisiknya, seperti instruksi pelatihnya. Untuk mencapai kondisi itu, bukan hanya butuh kondisi fisik yang prima, tapi butuh ketahanan mental. Karena saat melakukan aktivitas fisik biasanya orang akan berhenti sebelum mencapai puncak kelelahan, apalagi untuk melewatinya. Untuk apa Jaka melakukan latihan fisik seberat itu seperti menyiksa diri? Menurut pelatihnya, ia akan mendapatkan dua manfaat sekaligus. Pertama, manfaat secara fisik. Jika fisiknya terus dilatih untuk mencapai puncak kekuatan, maka daya tahan fisiknya secara bertahap akan terus meningkat, menjadi semakin kuat. Ketahanan fisik adalah modal utama bagi seorang pemain saat menjalani pertandingan berat yang menguras energi. Pemain dan tim yang lebih tangguh secara fisik biasanya akan keluar sebagai pemenang. Tentu saja harus didukung dengan penguasaan teknik yang mumpuni dan kekuatan mental yang kokoh juga. Kedua, manfaat secara mental. Untuk menggenjot fisik sampai melewati batas ketahanan, perlu daya tahan mental, untuk mengalahkan bisikan dari diri-sendiri. Saat barada dalam kelelahan, pikiran kita seolah menyuruh kita berhenti, "Berhenti! Berhenti! Jangan diteruskan! Kamu sudah terlalu lelah!" Jika bisa mengalahkan bisikan itu dan tak berhenti walaupun sudah merasa kepayahan, berarti kita sudah bisa mengalahkan diri sendiri. Saat berada di arena permainan, selain kemampuan teknik dan ketahanan fisik, prima, kekuatan mental seorang pemain juga tak kalah pentingnya. Jika dua tim yang bertanding sama-sama unggul dari segi teknik maupun fisik, tim yang lebih kuat secara mental biasanya akan keluar sebagai pemenang. Percikan Bunga Api Masalah cinta yang sedang dihadapi Jaka, seperti percikan bunga api yang membakar semangatnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Masalah ia hadapi dengan sikap dan tindakan positif. Ia sudah terbiasa menghadapi tekanan. Ia sudah membiasakan diri untuk menyikapi setiap situasi dan masalah dengan sikap positif. Jaka juga sudah melatih dan mengasah daya pikirnya agar mampu belajar dari pengalaman, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain. Semua itu ia lakukan karena ia merasa punya keterbatasan pendidikan dan pengetahuan. Jaka yang hanya lulus SMA, harus memendam keinginannya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, karena keterbatasan biaya. Jaka bisa cepat belajar dari pengalamannya sendiri maupun pengalaman orang lain. Ia juga tak segan untuk bertanya kepada orang yang ia anggap punya pengalaman dan pemahaman mendalam mengenai suatu masalah. Dalam hal cinta, karena ia merasa belum punya pengalaman yang memadai, ia berusaha keras belajar dari pengalaman. Ia suka bertanya dan berdiskusi dengan Eka sahabatnya, yang ia anggap punya banyak pengalaman dalam urusan cinta. Tapi kali ini Jaka belum cerita kepada siapa pun, termasuk kepada Eka, tentang masalah cinta yang sedang dihadapinya. Problem cinta yang kini sedang menderanya tak ia anggap sebagai beban, tapi ia jadikan sebagai tantangan sekaligus media pembelajaran. Bersambung... Jika menurut anda cerita ini cukup menarik dan memberi inspirasi silakan share di twitter atau facebook. Jika mau berlangganan artikel blog ini melalui email, silakan subscribe disini. |
| You are subscribed to email updates from Curhatkita To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
CurhatKita |
| Posted: 22 Aug 2011 01:57 PM PDT Oleh Juminten Larasati Tidak semua hal di dunia ini berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Seringkali kita harus berdamai dengan kenyataan yang berbeda jauh dengan apa yang kita cita-citakan. (miza, 2011) Bagi ODS (Orang Dengan Skizofrenia) atau ODB (Orang Dengan Bipoalar), masa-masa depresif adalah saat terberat yang mereka rasakan. Pada saat manic, mereka yang biasanya aktif dalam berbagai keggiatan, menjadi sangat lesu, lemah bahkan kelihatan.. maaf sedikit pandir. Begitu pula yang saya rasakan pada saat-saat depresif. Saya bisa tidur selama berjam-jam. Tidak mau mengerjakan tugas. Tidak memikirkan apa pun. Ingin rasanya hanya berbaring di kamar dan menikmati kesendirian. Ditambah lagi kepala terasa sakit, badan susah digerakkan, dan seringkali kehilangan kata-kata. Jika kondisi saya tidak terikat pada institusi apa pun. Saya hanya bertanggungjawab pada diri saya sendiri. Tidak menjadi beban bagi orang lain, hal itu tidak akan menjadi masalah besar. Namun kenyataannya, saya punya pekerjaan yang harus saya selesaikan. Dan saya bertanggung jawab atas tugas-tugas yang dibebankan kepada saya. Sempat saya berpikir, apakah saya harus menyerah dengan keadaan. Berhenti di tengah jalan. Dan tidak melakukan apa-apa. Tetapi itu bukan pilihan yang tepat. Menganggur sama halnya dengan merusak aspek kognisi otak secara perlahan-lahan. Sementara dunia terus berputar dan jam terus berdetak, saya ingin berhenti di satu titik, dan itu adalah hal yang mustahil. Maka saya merenung berkontemplasi, mencoba berpikir jernih dengan akal sehat se rasional mungkin dan dalam titik nadhir saya menemukan jawaban. Saya harus berdamai dengan kenyataan. Saya harus memahami dan memaklumi keadaan diri saya. Tidak perlu berhenti total, hanya perlu memperlambat langkah. Biarlah yang lain berjalan cepat. Tapi saya adalah siput yang cerdik. Yang bisa mendahului kancil. Saya mencoba menyederhanakan pemikiran. Mereduksikan tuntutan. Bahwa saya melakukan segala hal bukan untuk siapa-siapa dan bukan untuk mendapatkan apa pun. Hanya untuk ridho Illahi semuanya terasa ringan. Seperti bulu-bulu kapas yang beterbangan. Kita tidak perlu menjadi pemenang setiap hari. Tapi setidaknya kita telah memberikan usaha kita yang terbaik. Marilah kita senantiasa berbenah diri hingga menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Bagaimana pendapat anda tentang pengakuan jujur, inspiratif dan menggugah ini? Silakan sampaikan di komentar. Jika menurut anda artikel ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook. Jika mau berlangganan artikel blog ini melalui email, silakan subscribe disini. |
| You are subscribed to email updates from Curhatkita To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
CurhatKita |
| Bagaimana Meyakinkan Orangtua bahwa Anda Sudah Siap Menikah? Posted: 21 Aug 2011 01:10 PM PDT Oleh Tarjum Pagi itu, beberapa hari yang lalu, ketika membuka halaman "Forum Curhat", saya membaca curhat seorang pemuda berjudul "Ayah Izinkan Aku Menikah". Dia berniat nikah muda, namun ayahnya tidak menyetujui, mengapa? Silakan baca curhatnya : Assalamualaikum, Untuk mengawali semua,, sy cmn mo ngucapin syukur bisa nemu forum ini.. smg d forum ini sy bisa dapat masukan dr teman2. sy laki2 berusia 22 tahun. di forum ini sy mau menceritakan permasalahan yang sedang saya hadapi.. sy memiliki masalah dengan ayah mengenai niat sy untuk menikah muda.. ayah sy kurang setuju kalau sy menikah dalam waktu dekat ini.. beliau memiliki beberapa alasan : 1. karena keluarga kami masih memiliki masalah.. Perlu diketahui.. sy berasal dari keluarga yang broken home.. kehancuran keluarga saya bermula ketika ibu sy memiliki hutang yang besar kepada rentenir tanpa sepengetahuan ayah.. hal tersebut membuat ayah dan ibu pisah rumah.. saat ini ibu sy tinggal d rmh kerabat.. dan sampai saat ini hutang2 ibu sy belum bisa terlunaskan 2. Karena sy belum bisa menyelesaika kuliah sy.. (untuk masalah ini Insya Allah dalam waktu dekat ini sy akan sidang skripsi) akan tetapi yang menjadi masalah adalah sy masih memiliki tunggakan biaya kuliah.. sehingga sy belum bisa mengikuti sidang. 3. Wanita yang menjadi pilihan sy pun saat ini masih bestatus mahasiswi semester 3 jadi orang tua sy takut jika sy menikah saat ini sy tidak bisa menghidupi istri dan keluarga sy. 4. Dan masalah yang paling mengganjal bagi orangtua sy adalah saat ini sy masih belum memiliki pekerjaan tetap. sehingga orang tua sy belum mengizinkan sy untuk menikah. Itu adalah alasan2 ayah sy melarang sy untuk menikah dalam waktu dekat ini.. sedangkan alasan sy kenapa tetap ingin menikah muda.. karena sy adalah orang yang sangat percaya jika Rizki Allah lah yang mengatur.. dan Sy pun bukan tanpa perhitungan.. sy yakin sy memiliki kemampuan untuk mencari pintu2 rizki yang Allah berikan.. dan sy niatkan pernikahan sy ini adalah Karena Allah.. pasti Allah sll bersama sy.. hal ini sudah pernah sy sampaikan kepada ayah tp malah mengatakan "ayah ga ngerti dengan jalan pikiran kamu..!!" beliau malah mengatakan sy aneh di tengah banyak'y maslah d keluarga sy.. sy malah ingin menikah.. kepada teman2 sy berharap bisa memberi sy masukan dan saran atas masalah yg sedang sy hadapi ini.. bagaimana sy harus menghadapi sikap ayah sy?? dan apakah sy menunda rencana sy?? walaupun hati sy terasa berat..?? Saran saya : Menikah muda sebenarnya gak masalah klo memang anda berdua sudah benar-benar siap secara fisik, mental dan material. Klo niat anda menikah adalah kerena Allah, itu bagus. Dan jika anda yakin bisa menemukan pintu rizki yang sudah Allah atur, itu juga pemikiran yang benar. Namun anda tetap harus realistis, memandang segala hal bukan hanya dari satu sisi. Anda juga harus mencoba memandang rencana pernikahan anda dari sudut pandang ayah anda. Mengapa? Karena ayah sudah menjalani dan merasakan pahit getirnya kehidupan pernikahan, sedangkan anda baru merencanakannya. Wajar jika ayah menganggap anda aneh dan tak menyetujui keinginan anda. Karena memang situasi dan kondisinya tidak mendukung. Alangkah baiknya jika sebelum menikah anda sudah menemukan pintu-pintu rizki yang Allah sediakan untuk anda. Hingga setelah menikah nanti, anda bukan baru mencari-cari pintu rizki, tapi sudah bisa membukanya. Hingga anda akan merasa lebih tenang, karena sudah bisa menafkahi keluarga. Bukan hanya itu, anda juga bisa membantu mengatasi masalah ekonomi orang tua anda. Restu orang tua penting. Karena bukankah ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua? Untuk meyakinkan orang tua terutama ayah, bukan hanya dengan kata-kata yang meyakinkan, tapi harus dengan bukti nyata. Buktikan pada ayah bahwa anda bisa diandalkan. Salah satu pembuktiannya dengan membantu mencari solusi untuk mengatasi masalah orang tua anda. Buktikan bahwa anda bisa mandiri dengan bisa mencari nafkah sendiri, membiayai kuliah dengan hasil keringat sendiri sampai anda meraih gelar sarjana. Buktikan bahwa anda bisa mendapatkan pekerjaan yang layak atau merintis usaha sendiri, sehingga setelah menikah nanti tidak membebani orang tua atau mertua. Ini berarti anda sudah menemukan pintu-pintu rejeki Klo anda sudah bisa membuktikan itu semua, saya yakin ayah akan percaya pada kemampuan anda. Jika dia sudah percaya, dia akan merestui dan mendukung rencana pernikahan anda. Tak ada salahnya menunda sebuah keinginan jika itu bisa membuat segalanya lebih baik. Apakah anda punya pengalaman unik bagaimana meyakinkan orang tua tentang rencana pernikahan anda? silakan berbagi di komentar. Jika menurut anda artikel ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook. Jika mau berlangganan artikel blog ini melalui email, silakan subscribe disini. |
| You are subscribed to email updates from Curhatkita To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
CurhatKita |
| Posted: 20 Aug 2011 01:25 PM PDT Curhatkita Oleh Tarjum Cerita sebelumnya… Sesampainya di Rumah Rina, setelah memarkir motor, jaka berjalan ke arah pintu ruang tamu, lalu mengetuk pintu. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki menuju pintu ruang tamu itu. "Cepetan dong Ina keluar, aku udah kangen ingin ketemu kamu," gumam Jaka, detak jantungnya terasa berdegup kencang. Yang membuka pintu ternyata Yanti, kakaknya Rina. "Eh, Jaka, mau ketemu Rina ya?" Tanya Yanti. "Iya kak. Ada Rina nya Kak?" Tanya Jaka sumringah. "Tadi pergi sama temennya, katanya sih gak lama. Tunggu aja, sebentar lagi mungkin pulang. Sini atuh nunggunya di dalam," kata Yanti, mempersilakan Jaka masuk. "Makasih Kak, tunggu di luar aja," jawab Jaka, tampak kecewa. "Oh gitu, ya udah kakak tinggal dulu ya," kata Yanti, seraya meninggalkan Jaka yang masih berdiri termangu. Jaka hanya mengangguk, lalu duduk di teras menghadap ke jalan raya. Waktu berlalu terasa begitu lambat. Suasana malam minggu yang cerah, tampak muram di mata Jaka. Satu jam telah berlalu, Rina belum ada tanda-tanda akan pulang. Jaka bangkit berdiri, lalu berjalan ke arah jalan raya yang ramai oleh hilir mudik kendaraan bermotor para kawula muda. Jaka berharap Rina segera pulang, menghampiri Jaka dengan senyum manisnya. Waktu sudah menunjukan jam 10, Rina belum juga pulang. "Rin, kemana sih kamu? gak tahu apa aku kangen banget sama kamu?" gumam Jaka. Karena malam semakin larut, Jaka menemui Yanti, lalu pamit pulang. "Salam aja buat Rina ya Kak?" Kata Jaka, berusaha menyembunyikan kekecewaannya. "Ya, nanti kakak bilangin." Malam itu Jaka pulang dengan rasa kecewa dan segudang tanda tanya. "Kemana sebenarnya Rina pergi? Mengapa dia pergi tepat sebelum aku datang? Apakah dia lupa malam ini aku mau datang? Ataukah sengaja dia pergi untuk menghindariku? Hmmhh….ada apa sih Rin sebenarnya dengan kamu," gumam Jaka. Tiga hari kemudian, malam Kamis, Jaka pergi ke rumah Rina. Bukan untuk apel, Jaka hanya ingin menemuinya sebentar dan menanyakan beberapa hal ke Rina. Sekitar jam 8 malam Jaka nyampe di rumah Rina. Kali ini Rina ada di rumah. Jaka duduk di teras samping rumah. Rina duduk disampingnya dengan sikap dingin. Sejak tadi Rina hanya diam membisu, tak terucap sepatah-kata pun dari bibirnya. Hanya matanya yang sesekali melirik Jaka. Sampai beberapa saat, Jaka pun hanya berdiam diri. "Ina, ada apa sebenarnya dengan kamu?" Tanya Jaka, memecah kebisuan. "Enggak ada apa-apa, emang kenapa gitu?" Rina balik bertanya. Sikapnya dingin, tak ada senyum atau sorot mata berbinar seperti yang sering Jaka lihat. "Aku ngerasa, kamu sudah berubah sekarang. Aku bisa merasakan walaupun kamu tak mengatakannya," kata Jaka, memandang Rina dengan tatapan penuh tanda-tanya. "Berubah apanya? Aku ngerasa nggak berubah, biasa-biasa aja. Mungkin itu hanya perasaan kamu aja yang sensitif." "Ya, gak apa-apa klo emang Ina ngerasa nggak berubah. Moga aja perasaanmu padaku juga nggak berubah," Rina hanya diam tak berkomentar. Pandangannya seperti menerawang jauh ke suatu tempat. "Malam Minggu kemarin Ina kemana? Aku nungguin sampai jam 10 lebih, blom pulang juga?" tanya Jaka, penasaran. "Main ke rumah temen, ada tugas sekolah yang harus dikerjain bareng," "Oh.. gitu. Kirain kemana. Emang Ina gak tahu klo aku mau datang?" "Tahu sih, tapi ya gimana, temanku minta aku ke rumahnya. Emang gak boleh klo aku main ke rumah temen?" Tanya Rina. "Boleh aja! Aku kan gak pernah ngelarang kamu main sama temen. Cuma paling nggak titip pesan sama kak Yanti, biar aku nggak bingung dan bertanya-tanya, kemana dan sama siapa kamu pergi." "Iya sih kemarin aku lupa gak ngasih tahu kak Yanti." Sampai di sini Jaka bisa menerima penjelasan Rina. Namun entah mengapa perasaan Jaka masih galau. Jaka merasa ada sesuatu yang disembunyikan Rina darinya. Kata-kata Rina memang mayakinkan, tapi tidak demikian mimik muka dan gerak tubuhnya. Malam itu, Rina memang menemani Jaka ngobrol, membicarakan banyak hal tentang hubungan mereka berdua. Tapi Jaka merasa, pikiran Rina tak bersamanya. Entah ke mana dan dengan siapa pikirannya mengembara, tapi yang jelas bukan bersamanya. Walaupun ada rasa kecewa mengendap di relung hati, kerinduan Jaka cukup terobati setelah bertemu dan mengungkapkan isi hati kepada sang kekasih. Walaupun masih betah duduk berdua dan ngobrol dengan sang pujaan hati, karena sudah cukup larut, Jaka pamit pulang. Malam itu Jaka pulang menjelang tengah malam. Dan Jaka baru akan bertemu lagi dengan Rina dua minggu yang akan datang, seperti permintaan Rina. Biasanya ketika Jaka pamit pulang, Rina seperti enggan berpisah. Tapi kali ini beda! Sikap Rina biasa-biasa saja, bahkan seperti tak peduli. Lagi-lagi membuat tanda-tanya di hati Jaka. Bersambung... Jika menurut anda cerita ini cukup menarik dan memberi inspirasi silakan share di twitter atau facebook. Jika mau berlangganan artikel blog ini melalui email, silakan subscribe disini. |
| You are subscribed to email updates from Curhatkita To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
Cewek Bisa Pake |
| Posted: 17 Aug 2011 03:37 PM PDT
| ||||||||||||||
| You are subscribed to email updates from Cewek Bisa Pake To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |