Friday, 16 March 2012

CurhatKita

CurhatKita


Pelajaran Berharga dari Nenek “Berbibir Merah” di Lereng Merapi

Posted: 16 Mar 2012 03:08 PM PDT

Oleh Tresya Agnashila

Malam itu aku buka "forum curat" dan melihat kejenuhanku di jawab oleh sahabatku Tarjum.

Aku sangat tertarik, dengan beberapa ide yang dia berikan. Dia memberikan dua pilihan, yaitu pergi ke panti asuhan dan bermain bersama anak-anak di sana atau pergi ke pedesaan dan melakukan aktifitas dengan gadis-gadis desa yang tentunya nggak biasa aku lakukan.

Kebetulan untuk pilihan pertama, sudah bukan hal baru dalam kehidupanku, karena alhamdulillah, sejak 5 tahun terakhir atau lebih tepatnya setelah aku mendapatkan pekerjaan dan berpenghasilan sendiri, aku ikut mengelola suatu yayasan panti asuhan. Jadi bagiku, bermain dan berbagi bersama anak-anak panti adalah hal yang biasa aku lakukan.

Tiba-tiba aku teringat, akan keadaan penduduk di sekitar gunung merapi yang kebetulan letaknya tidak jauh dari tempat di mana aku tinggal. Dan langsung terbesit dalam pikiranku, akhir pekan nanti akan aku habiskan waktu untuk mengunjungi saudara-saudaraku yang ada di sekitar merapi.


Berkunjung ke Lereng Merapi

Akhir pekan pun tiba. Beruntung ada dua sahabatku yang mau menemaniku kesana. Aku berangkat dari rumah sekitar pukul 05.00 pagi.

Aku sengaja memilih waktu pagi hari, karena aku ingin mendapatkan dan menikmati dingin serta sejuknya udara pegunungan di pagi hari. Dan benar saja, bukan hanya dingin dan sejuk yang aku dapatkan, tapi hampir setengah dari tubuh ini beku, mobil pun hampir tak bisa jalan karena jalanan masih tertutup oleh kabut.

Kami putuskan untuk berhenti di pangkalan bus pariwisatayang saat itu masih sangat sepi. Belum ada satu kendaraan bahkan satu orangpun yang berhenti atau melintasi tempat itu.

Meskipun hawa dingin seakan menusuk tulang, tapi kami bertiga justru penasaran, ingin terus keatas mencoba sekuat apa tubuh kita menahan dinginnya angin pegunungan.
Akhirnya mobil kita parkir di pangkalan bus tadi dan kita nekat berjalan kaki tanpa alas kaki naik ke puncak yang lebih tinggi. Sambil berlari-lari kecil dengan tujuan mencari keringat agar tubuh menjadi hangat. Padahal sebenernya nggak ngefek juga sih... hehehe.

Sekitar kurang lebih satu kilometer perjalanan, kita sampai di puncak gardu pandang merapi, kabut sudah mulai turun, dan Subhanallah.... kita di beri hadiah oleh Allah SWT, kemegahan pemandangan alam pegunungannya dipagi hari, sejuknya udara yang ketika menghirup terasa kesejukannya masuk dari hidung dan menyelinap hingga ke otak. Benar-benar berasa kayak komputer yang abis di restart....! (ga ada hubungannya deh!)


Menikmati Kemegahan Alam Lereng Merapi


Sejenak kita diam sambil ngos-ngosan karena kecapekan.
Kita nemuin sungai kecil di bawah pohon-pohon pinus. Kita coba mendekat untuk cuci tangan dan kaki. Tapi setelah kita sampai di aliran air kecil itu, subhanallah, kita lihat lagi kemegahan dari allah... airnya.

Benar-benar jernih, bening, bahkan terlihat berkaca-kaca. Ada hiasan rumput-rumput hijau yang bergoyang di dalamnya dan batu-batu hitam yang tertata rapi di sana. Alhasil bukannya cuci kaki dan tangan, tapi kita malah buru-buru pengen mencicipi kesegaran air itu.

Setelah aku mencoba untuk mengambil air itu dengan tanganku... Bbbbrrrrrrrr....... Dinginnya maaaaaaaaaaaaak. Frezer dirumah aja kalah ama ni air.. hahaha... dingin banget.

Waktu aku coba buat minum tu air, enggak seger lagi rasanya, tapi beku sampe ke otak... xixixixi. Tapi subhanallah, lagi-lagi nggak ada kata lain yang bisa aku sebut, kecuali memuji keagungan Allah.

Aku lihat jam, sudah menunjukan pukul 06.30. Tapi suasana di sana masih hening, masih sangat sepi dan belum ada tanda-tanda kehidupan lain, selain suara burung-burung di atas langit.

Kita bertiga akhirnya duduk-duduk dipinggir jalan, sambil menikmati pemandangan alam dan menghirup oksigen pegunungan yang benar-benar menyegarkan.

Sekitar pukul 07.00 baru terlihat ada kendaraan yang melintas. Dan setelah itu muncul beberapa warga desa sekitar yang mungkin akan pergi ke kebun mereka memanen dan merawat tanaman-tanaman mereka.


Bertemu Petani Desa yang Ramah

Puas beristirahat, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk jalan-jalan lagi di sekitar sana. Kami mencari pemukiman warga dan alhamdulillah, diperjalanan kami bertemu dengan beberapa penduduk yang sedang memanen hasil tanaman mereka. Ada banyak perkebunan di sana dan kebanyakan mereka menaman cabai, kubis, sawi, tomat, daun bawang dan seledri.

Waktu itu ada dua orang ibu sedang memanen cabai. Kami menyapa mereka, dengan ramahnya mereka membalas salam kita dan menawarkan untuk mampir ke kebun mereka. Dengan senang hati kita terjun ke kebun ibu-ibu tadi.

Kita berjabat tangan dan mereka menanyakan asal kita. Sempat ngobrol beberapa saat, kita mohon ijin untuk membantu mereka memanen cabai, dan dengan senang hati pula mereka mengijinkan serta mengajari kita bagaimana caranya memanen cabai. Seru banget.

Gak cuma ibu-ibu dan cabai yang kita temui di sana, tapi ulat bulu, serangga, kotoran ayam, kotoran sapi (pupuk kandang) dan rumput-rumput berduri juga ikut menyambut kedatangan kita. Tapi apalah arti itu semua, justru dengan adanya mereka, menambah kecerian dan pengalaman buat kita.

Nggak lama kemudian, datang dari jauh seorang nenek-nenek yang jalan tanpa alas kaki sambil menggendong keranjang dari bambu. Nenek itu menghampiri kita, dan dengan cerianya dia menyapa kita sambil tersenyum manis. Terlihat gigi-giginya yang sudah menghitam, bibirnya yang merah karena kina dan suaranya yang lantang penuh keramahan seakan dia ingin bergabung bersama kita.

Sungguh, aku terpikat oleh nenek satu ini, meski usianya sudah sangat banyak, kalo menurutku sih sekitar 70 tahunan, tapi semangat serta keceriaannya tiada batas. Kalo aja ada penghargaan nenek ter "ceria" di dunia, pasti dia dapet juara pertama nya... wkwkwkwk....

Tanpa canggung dia ikut gabung sama kita dan itu sangat-sangat menambah keceriaan serta kehebohan suasana pagi di pegunungan. Kemudian dia menawarkan kita untuk mampir ke rumahnya, yang kebetulan tak jauh juga dari tempat itu. Lalu kita berjalan bersama, sambil bercerita dan tibalah kita di rumahnya. Ada satu anak perempuannya dan tiga orang cucunya. Mereka juga tak kalah ramahnya dengan nenek itu.


Menikmati Keripik Singkong di Rumah Sang Nenek

Begitu kami datang, langsung kami disuguhi teh panas dan cemilan-cemilan kecil dalam toples wafer "Astor". Dikira temenku isinya beneran wafer astor, eh ternyata setelah dibuka isinya ceriping ketela, itupun sudah tinggal separo... hahaha, kami tertawa geli tapi sangat bahagia.

Sejenak aku merenungkan, sungguh mulia hati penduduk di sini, terutama nenek dan keluarganya ini. Mereka menyambut kita, orang baru yang sama sekali belum mereka kenal. Bahkan kedatangan kita di sinipun tidak ada urusannya dengan mereka, tapi mereka tetap menyambut kita dengan penuh keramahan dan kehangatan.

Sangat berbeda dengan cara pandang rekan-rekan kita yang ada di kota ketika mereka menemui orang baru, alih-alih ramah, yang ada hanya prasangka buruk, curiga dan curiga.

Yang paling membuatku terharu, mereka benar-benar menganggap tamu adalah raja. Dengan keterbatasan mereka, ketika kami datang, apapun yang mereka punya mereka coba hidangkan. Sungguh, ceriping ketela dan teh yang tak seberapa manis, nikmatnya melebihi donut J'co atau Orange juice yang ada di mall-mall.

Cukup lama kami singgah di rumah nenek, kami ikut membantu nenek memanen daun bawang untuk dijual kembali di pasar. Kulihat, temanku asyik meminjamkan HP nya kepada cucu-cucu nenek tadi. Mereka terlihat sangat senang, melihat dan mencoba mainan baru yang mungkin selama ini belum pernah mereka lihat.


Pelajaran Ikhlas dan Syukur dari Kesahajaan Keluarga Petani

Disela-sela perbincangan kami, aku bertanya, di mana kakek dan suami dari anaknya? Nenekpun bercerita, bahwa kakek sudah meninggal sekitar 30 tahun yang lalu, dan suami dari anaknya menjadi buruh bangunan di Jakarta. Biasanya dia pulang setahun sekali ketika lebaran. Dan setiap bulan dia hanya mampu mengirimi istri dan ketiga anaknya uang Rp.250.000,-.

Aku sangat kaget mendengar nominal tersebut, tapi dengan ikhlasnya mbak Yanti, anak dari nenek itu berkata, "Alhamdulillah cukup mbak, berapa aja saya dikirimi yang penting suami saya di sana sehat dan bisa makan setiap hari. Kalo kami di sini gampang, banyak sayuran yang bisa kami petik, kami masak dan kami makan. Kalo bapaknya anak-anak di sana kan nggak punya kebun mbak, jadi makanan harus beli."

Subhanallah, betapa besar hati mbak Yanti, dengan ikhlasnya dia menjaga, merawat ibu serta ketiga anaknya dengan Rp. 250.000,- per bulan. Nggak bisa aku bayangin kalo aku di posisi mbak Yanti. Dengan gajiku saat ini aja, kadang aku masih merasa kurang, tapi dia benar-benar seorang wonder woman!

Sekitar pukul 10.00 pagi, kita baru sadar kalo kita kelaparan. Dari subuh banyak sekali yang sudah kita kerjakan dan otomatis banyak juga energi yang kita keluarkan. Kita baru sadar juga kalo kita sudah meninggalkan mobil kita di pangkalan bus, yang kata si nenek kalo jam segini di sana dijadikan pasar kecil oleh penduduk sekitar. Alamaaaaaaaaaaaak, jadi apa mobil kita di sana?

Setelah puas bermain-main dan bersenda-gurau, akhirnya kami pamit untuk pulang. Kami diantar oleh nenek, anak dan cucu-cucunya sampai ke pangkalan bus. Dan alhamdulillah, mobil kita aman disana. Kita justru bertemu dengan pasar kecil, yang menyajikan sayur mayur yang masih sangat-sangat segar dan subhanaallah, harganya sangat-sangat muraaaaah. Mungkin karena memang ini adalah hasil panen sendiri, orang di sana juga belum tau harga-harga di pasaran.

Sebagai ucapan terima kasih, kami bertiga berinisiatif untuk membelanjakan nenek dan anak cucunya sayur-mayur, lauk-pauk dan bahan pokok lainnya. Tidak banyak yang bisa kami berikan, tapi lagi-lagi kepolosan mereka dan tingginya rasa syukur mereka membuat kita jadi merasa, bahwa di mana rasa syukurku?

Allah telah memberiku rejeki yang tak ternilai. Setiap bulan jutaan rupiah yang ia berikan padaku, setiap hari kesehatan dan kebahagiaan yang ia anugerahkan untukku, tapi masih saja aku ingin lebih dan lebih. Jarang sekali ucapan syukur terucap dari bibirku seperti rasa syukur nenek dan anaknya ketika menerima sembako dan sayur mayur dariku.


Pulang dari Lereng Merapi, Membawa Kenangan Indah dan Bermakna

Kawan, banyak sekali pelajaran dari perjalananku yang hanya beberapa jam ini.
Terima kasih ya Allah, engkau berikan aku kenikmatan kedua bola mata, hingga aku bisa melihat betapa megahnya duniamu ini.

Terima kasih ya Allah, engkau berikan aku anugerah kedua daun telinga, hingga aku bisa mendengar merdunya suara burung-burung dan gemericik air yang mengalir di sungai kecilmu.

Terima kasih ya Allah, engkau berikan aku hidung, hingga aku bisa menikmati sejuknya oksigen dan segarnya embun pagi mu.

Terima kasih ya Allah, engkau pertemukan aku dengan nenek beserta keluarganya, hingga banyak sekali pelajaran hidup yang bisa aku petik dari mereka.

Aku lampirkan foto-fotoku bersama nenek, ibu-ibu, mbak Yanti beserta anak-anaknya. Tidak banyak yang bisa aku dokumentasikan karena keasyikan di sana. Dan HP ku pun dibuat mainan anak-anaknya mbak Yanti, jadi hanya beberapa foto yang bisa aku dapatkan.

Guys, sekian pengalaman liburanku dalam rangka menghilangkan kejenuhan. Semoga cerita ini bisa menginspirasi kalian.

Ketika merasa jenuh atau ingin mencari hal-hal baru dalam hidup, carilah tempat-tempat yang berkaitan langsung dengan alam. Karena kebesaran Tuhan terlihat melalui alam semesta ciptaan-Nya yang jauh lebih megah dibandingkan cafe-cafe atau club-club malam yang menawarkan sejuta hiburan.

Sekian dari Tresya, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.


Cerita inspiratif ini dikutif dari penuturan Tresya di Forum Curhat.

Foto by kampungjati7 & Tresya

Bagaimana Mengatasi Kejenuhan Rutinitas Kerja dengan Cara Sederhana namun Unik dan Berkesan

Posted: 15 Mar 2012 07:56 PM PDT

"Akhir-akhir ini aku merasa sangat jenuh dengan rutinitasku..."

Demikian seorang gadis mengawali curhatnya di Forum Curhat. Tresya Agnashila, namanya.

Dia merasa jenuh dengan rutinitas kerja yang menyita waktunya. Dia juga jenuh dengan acara-acara keluarga yang tak disukainya. Dia merasa tak punya waktu untuk dirinya sendiri.

Silakan simak curhat selangkapnya.

Akhir-akhir ini aku merasa sangat jenuh dengan rutinitasku...

Mungkin faktor pekerjaan yang sangat menumpuk dan banyaknya acara kantor yang sangat menyita waktuku yang membuatku merasa jenuh. Pukul 07.00 pagi, aku udah berangkat kantor dan pulang paling awal pukul 18.00. Sama sekali nggak ada waktu untuk bermain atau sekedar menghirup udara segar.


Belum lagi di akhir pekan, selalu ada aja acara keluarga atau teman-teman yang kadang nggak sesuai dengan yang aku inginkan, tapi demi membahagiakan keluarga dan demi menjaga persahabatan, aku selalu mencoba untuk mengikuti keinginan mereka. Tapi hasilnya, pikiran dan diriku sendiri yang sekarang merasa JENUH.

Aku ingin suasana baru, aku ingin bertemu dengan orang-orang baru dan hal-hal baru lainnya....

Adakah yang bisa kasih saran untuk kejenuhanku..:)


Saran saya:

Rutinitas memang pada titik tertentu bisa membuat jenuh. Makanya coba luangkan waktu untuk melakukan hal-hal baru dan menantang. Kata seorang motivator, "Keluarlah dari zona kenyamanan anda". Mengunjungi tempat-tempat yang belum dikunjungi atau melakukan aktivitas yang menantang. Tidak harus melakukan hal-hal yang berbahaya. Melakukan hal-hal positif untuk diri sendiri dan orang lain bisa membuat anda merasa "lebih hidup".

Misalnya, berkunjung ke panti asuhan atau bertemu anak-anak jalanan dan mengajari mereka sebuah keterampilan. Bisa juga berkunjung ke sebuah desa, mencoba pekerjaan yang biasa perempuan desa lakukan.

Tidak butuh biaya besar untuk melakukan hal-hal itu. Hanya butuh kemauan dan meluangkan waktu, ya kan? Tapi klo anda punya uang lebih, nggak ada salahnya ngasih hadiah (buku, alat tulis atau baju) untuk anak-anak yatim dan anak jalanan.

Coba deh! Anda akan merasa "lebih hidup" dan tak lagi merasa terkungkung oleh rutinitas pekerjaan.


Tanggapan Tresya Agnashila:


Good Idea.....

Sudah saya coba, dan memang benar.... kita bisa melihat dan menikmati sisi lain dari diri kita sendiri.

Saya bisa mengeluarkan apa yang tidak bisa saya keluarkan di kantor. Saya bisa menjadi pribadi yang lebih natural. Menikmati kemegahan alam, merasakan kebahagiaan senyum tulus dari anak-anak yang belum merasakan beban tumpukan-tumpukan data yang harus dikerjakan. Mereka berlari, bermain air, bernyanyi, makan dan tidur seakan dunia ini tidak pernah berhenti.

Dan ketika saya bertemu oleh seorang nenek & ibu-ibu di desa, di pagi hari mereka memanen kubis, sawi, cabai dan daun bawang. Tanpa alas kaki mereka berjalan dengan selendang kucel dan keranjang dari bambu. Dengan gigi yg agak menghitam, nenek itu menyapa saya dengan senyum penuh kehangatan. Meskipun kita tidak saling mengenal, dengan ramahnya dia mengajak saya mampir ke kebunnya dan menawarkan untuk minum teh di rumahnya.

Sungguh, kepolosan mereka yang tak pernah memandang sebelah mata pada orang lain. Alih-alih sombong, rasa curiga terhadap orang baru pun sama sekali tak terlihat dari raut wajah mereka. Yang mereka tahu, tamu adalah raja, dan semua adalah saudara. Sungguh indah dunia ini, ketika bisa diisi oleh kesederhaan pola pikir mereka.

Sahabatku Tarjum, terima kasih telah mengenalkanku pada dunia yang baru :)


Catatan:

Sebuah kebahagiaan yang tak ternilai bagi saya ketika saran atau nasihat yang saya sampaikan kepada seorang sahabat, dijalankan dan bisa membuat dia bahagia.

Tresya, semoga engkau bisa menemukan indahnya warna-warni kehidupan di sepanjang perjalanan hidupmu. Warna-warni kehidupan yang akan membuatmu semakin dewasa, matang dan bijak. Sehingga engkau juga bisa menebarkan indahnya warna-warni kehidupan yang telah engkau temukan kepada sahabat-sahabatmu yang lain.

Anda ingin membaca cerita Tresya ketika berkunjung ke sebuah desa di lereng gunung merapi dengan cuaca dingin membeku?

Anda juga ingin melihat foto-foto Tresya yang cantik dan ceria saat bersama ibu dan nenek petani memetik cabai, kubis, sawi dan bertemu ulat bulu?

Silakan baca cerita pengalaman Tresya di lereng Merapi, besok di blog ini.

Tuesday, 6 March 2012

CurhatKita

CurhatKita


3 Kunci Penting yang Tak Boleh Diabaikan ODMK Ketika Menjalani Terapi Pemulihan agar Hasilnya Optimal

Posted: 06 Mar 2012 02:34 AM PST

Oleh Tarjum

Ketika anda merasa ada yang tak beres dengan diri anda, anda mulai bertanya-tanya, "Apa yang terjadi dengan diri Saya? Apa yang harus saya lakukan?"

lalu anda mencari informasi tentang kondisi psikis anda. Anda mencari-cari informasi di internet, buku-buku, majalah, surat kabar dan media lainnya.

Anda sudah tahu kondisi psikis anda, tapi anda belum yakin dengan informasi yang anda dapat. Lalu anda memberanikan diri konsultasi dengan psikiater atau psikolog klinis. Saya salut jika anda mengambil langkah ini, karena sebagian besar orang enggan konsultasi ke psikiater/psikolog klinis dengan berbagai alasan.

Setelah konsultasi dengan psikiter anda mengetahui dengan akurat jenis gangguan apa yang anda alami. Psikiater pun memberikan saran-saran medis dan non medis untuk membantu proses pemulihan anda, termasuk meresepkan obat jika diperlukan.

Anda mengikuti saran-saran psikiater dengan menjalani terapi dan mengkonsumsi obat secara teratur. Selain mengikuti saran-saran psikiater anda juga mencoba terapi alternatif untuk mendukung terapi medis yang sedang anda jalani.

Setelah beberapa waktu lamanya anda menjalani terapi, anda merasakan ada perubahan positif dengan kondisi psikis anda. Namun masih jauh dari yang anda harapkan.

Anda mulai ragu apakah terapi yang anda jalani benar-benar akan mengantarkan anda ke gerbang pemulihan? Apakah apa yang anda lakukan selama ini tidak sekedar buang-buang energi, waktu dan biaya, sementara hasilnya tak seperti yang anda inginkan?

Karena ragu, anda pun menjalani terapi dan pengobatan dengan setengah hati. Bahkan anda tak disiplin lagi menjalani terapi. Anda juga tak lagi mengkonsumsi obat secara teratur seperti anjuran psikiater yang merawat anda.

Anda mulai cemas dengan kondisi psikis anda. Kecemasan dan kekhawatiran perlahan menguasai pikiran dan membuat kondisi psikis anda labil. Jika kondisi ini dibiarkan dan tak anda kendalikan, anda akan masuk ke siklus suasana hati yang negatif.

Mengapa semua itu bisa terjadi?

Menurut pengalaman dan analisa saya, ada 3 kunci penting yang anda abaikan saat menjalani terapi pemulihan. Saya tak mempersoalkan jenis gangguan yang anda alami dan terapi apa yang anda jalani. Yang akan saya bahas adalah cara anda menjalani terapi.

Apa saja 3 kunci penting yang diabaikan itu?


1. Keyakinan

Keyakinan sangat penting anda miliki ketika anda menjalani terapi. Apa pun jenis terapi yang anda jalani.

Yakin pada Tuhan bahwa semua yang terjadi pada anda dan semua mahluk ciptaanya adalah atas kehendaknya. Mudah saja bagi Tuhan jika akan membuat anda sakit atau membuat anda sembuh. Yakinlah bahwa tuhan melihat usaha-usaha anda. Yakinlah bahwa Tuhan mendenger do'a-do'a anda dan akan mengabulkan do'a anda pada saatnya, karena Tuhan maha tahu apa yang terbaik untuk anda.

Yakin pada diri sendiri bahwa apa yang anda lakukan sudah tepat dan akan berhasil sesuai dengan yang anda harapkan. Jika anda sendiri tidak yakin dengan apa yang anda lakukan, bagaimana mungkin anda akan sepenuh hati melakukannya? Bagaimana mungkin anda akan bersemangat dan antusias menjalaninya?

Ibarat seorang pelari marathon yang harus berlari menempuh jarak puluhan kilometer. Pelari yang akan memenangkan perlombaan adalah pelari yang percaya kepada dirinya sendiri bahwa dia sedang berlari di jalur yang benar dan percaya bahwa dirinya bisa memenangkan lomba.

Coba anda bayangkan jika sang pelari yang tidak yakin dengan dirinya sendiri dan apa yang dilakukannya berpikir seperti ini, "Benarkah saya sedang berlari di jalur jalan menuju garis finis? Benarkah saya bisa memenangkan lomba?" Menurut anda apakah pelari ini akan menjadi juara? Atau paling tidak dia akan sampai di garis finish? Saya tidak yakin.


2. Disiplin

Disiplin diri yang tinggi sangat penting saat manjalin terapi. Bahkan sangat penting saat anda menjalani aktivitas apa pun. Orang-orang yang sukses dalam bidang apa pun adalah orang-orang yang disiplin.

Anda mungkin tahu, seorang yang didiagnosa menderita TBC harus meminum obat selama 6 bulan berturut-turut dan tidak boleh terlewat sehari pun. Kalau terlewat sehari saja maka harus mengulang lagi dari awal. Pengobatan apa pun perlu disiplin diri yang tinggi saat menjalaninya jika menginginkan hasil yang optimal.

Artinya terapi atau pengobatan apa pun, fisik atau psikis harus dijalani dengan disiplin. Kalau hanya dijalani asal-asalan bisa dipastikan hasilnya pun tak akan optimal.


3. Sabar

Jangan keliru mengartikan sabar.

Sabar yang saya maksud bukan dalam arti pasif, hanya berdiam diri dan menunggu nasib baik datang. Bukan sabar seperti itu yang saya maksud!

Sabar dalam arti aktif. Anda yakin dengan kemaha kuasaan Tuhan. Anda yakin dengan diri sendiri bahwa apa yang anda lakukan sudah benar. Anda menjalani terapi dengan penuh disiplin. Ketika hasilnya belum sesuai dengan yang anda harapkan, anda bersabar.

Selanjutnya anda evaluasi apa yang sudah anda lakukan. Apa yang sudah berjalan dengan baik dan apa masih kurang dan perlu ditingkatkan. Anda terus menjalani terapi dengan penuh keyakinan dan disiplin. Yang sudah baik anda tingkatkan yang masih kurang anda perbaiki.

Sabar juga berarti tidak mudah menyerah. Anda mungkin terlalu cepat menyerah ketika ikhtiar-ikhtiar yang anda lakukan belum juga membuahkan hasil seperti yang diharapkan.

Ibaratnya anda sedang menempuh perjalanan menuju suatu tempat. Kalau anda merasa lelah, tak ada salahnya berhenti sejenak untuk memulihkan tenaga. Setelah tubuh anda segar kembali, anda bisa melanjutkan perjalanan. Pada saatnya nanti, cepat atau lambat anda akan sampai di tujuan.

Tapi jika anda menyerah, berhenti lalu kembali dan tidak melanjutkan perjalanan, anda tidak akan pernah sampai di tujuan.

Merasa lelah, frustasi dan menyerah sementara dalam menjalani proses pemulihan, wajar dan manusiawi. Tapi, anda harus melanjutkan ikhtiar-ikhtiar anda jika anda ingin meraih pemulihan seperti yang anda harapkan. Jika anda tak berhenti berusaha, anda akan sampai di tujuan pada akhirnya.


Bertahanlah dan Jangan Cepat Menyerah

Ada sebuah kisah inspiratif yang menceritakan sebuah keluarga di AS yang memiliki tanah yang diperkirakan terdapat kandungan bijih emas di dalamnya.

Mereka mulai menggali tanah tersebut dengan harapan akan menemukan kandungan emas berlimpah di dalamnya. Setelah sekian lama menggali, ternyata emas yang mereka harapkan belum juga ditemukan. Mereka menyerah dan menjual tanah tersebut kepada keluarga lain.

Keluarga yang membeli tanah tersebut dengan penuh keyakinan meneruskan menggali tanah yang ditinggalkan pemilik tanah sebelumnya.

Apa yang terjadi?

Hanya beberapa meter dari bekas galian pemilik tanah sebelumnya mereka menemukan kandungan emas berlimpah. Dan akhirnya keluarga tersebut manjadi kaya raya dari hasil tambang emas miliknya.

Pemilik tanah pertama terlalu cepat menyerah. Padahal jika mereka bertahan dan terus menggali beberapa meter lagi, mereka akan menemukan kandungan emas yang akan membuat mereka kaya raya.

Pesan moral dari kisah ini adalah: Jangan terlalu cepat menyerah, terus berusaha dan bertahanlah, maka harapan anda akan terwujud.

Jadi, apa pun jenis gangguan jiwa yang anda alami, apa pun jenis terapi dan pengobatannya, jangan mengabaikan 3 kunci penting ini: keyakinan, disiplin dan sabar.

Setelah melakukan ikhtiar maksimal, berdo'alah memohon petunjuk dan pertolongan kepada-Nya. Kembalikan segala urusan kepada-Nya, karena Tuhan maha tahu apa yang terbaik untuk anda.

Anda punya pengalaman pribadi terkait 3 kunci penting ini saat menjalani terapi pemulihan? Saya sangat senang hati jika anda mau berbagi dengan kami di komentar.

Pada artikel berikutnya saya akan membahas tentang sebuah "mantra" dari dunia pesantren yang sudah terbukti ampuh.

Mantra yang sudah terbukti mampu mencetak manusia-manusia dengan kepribadian tangguh, akhlak yang luhur dan memiliki semangat juang tinggi. Mantra yang sudah terbukti mampu mencetak ulama-ulama besar dan pemimpjn-pemimpin negeri di berbagai bidang kehidupan.

Apakah mantra itu, silakan simak artikel berikutnya di Curhatkita.


Jika menurut anda artikel ini cukup menarik dan bermanfaat silakan share di twitter atau facebook. Jika mau berlangganan artikel blog ini melalui email, silakan subscribe disini.

Tarjum adalah pendiri dan editor Curhatkita, Forum Curhat, Grup Teman Curhat dan Solusi Bipolar Facebook. Penulis buku psikomemoar "Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah". Anda bisa kenal lebih dekat dengan Tarjum di sini dan ikuti Tarjum di Facebook dan Twitter.

Monday, 5 March 2012

CurhatKita

CurhatKita


Kenangan Indah di Tangkuban Perahu dengan Teman, Kekasih dan Anak Istri

Posted: 05 Mar 2012 03:17 AM PST

Saya paling suka wisata pegunungan, hawanya sejuk pemandangannya indah menawan. Apalagi ditemani kekasih tercinta, serasa berada di surga nirwana.

Wisata pegunungan terdekat dengan domisili saya di Subang, adalah obyek wisata Gunung Tangkuban Perahu (GTP), Lembang, Bandung. Lokasinya berada di perbatasan Subang dan Bandung.

Saya sering berkunjung ke Tangkuban Perahu. Banyak kenangan indah di sana. Karena itu saya tak pernah bosan berkunjung ke Tangkuban Perahu.

Kenangan indah, unik dan seru di Tangkuban Parahu ini saya bagi menjadi tiga bagian: Kenangan unik dan seru dengan teman sekolah, kenangan indah dengan kekasih dan kenangan indah dengan anak-istri.


Kenangan Unik dan Seru dengan Teman Sekolah

Kenangan unik dan seru di GTP ini saya alami dengan tiga orang teman sekolah pada tahun 1992 silam. Kami berempat tertinggal dari rombongan Study Tour SMA Purwadadi di GTP.

Kami berempat harus berjalan kaki dari puncak GTP sampai ke jalan raya. Dan cari tumpangan dari GTP ke rumah kami masing-masing. Capek tapi seru!

Begini ceritanya :

Setelah turun dari bis yang membawa rombongan Study Tour GTP, semua siswa berhamburan menuju ke beberapa lokasi kawah GTP yang indah dan eksotik.

Kami berempat (Saya, Wawan, Epul dan Sunara) memisahkan diri dari rombongan besar, menuju sebuah kawah yang katanya masih aktif. Lokasi kawah tersebut agak jauh dan tersembunyi dari pusat area wisata. Untuk sampai ke sana kami harus menuruni jalan stapak yang berkelok-kelok dan cukup terjal.

Akhirnya kami berempat sampai juga di lokasi kawah. Benar saja kawah tersebut masih aktif, tampak letupan-letupan magma di beberapa titik. Bau belerang terasa menyengat. Pemandangannya indah sekali. Tak ada pengunjung lain selain kami berempat di lokasi kawah tersebut.

Kami turun mendekati kolam-kolam air panas yang tampak mendidih. Setelah puas menikmati pemandangan di sekitar kawah yang tampak sunyi tersebut, kami berempat memutuskan segera kembali ke lokasi parkir bis.

Di tengah perjalanan, saya melihat sebuah akar pohon yang tampak unik, seperti ular yang melilit batang pohon. Saya berhenti dan coba menarik akar tersebut. Ternyata tak bisa, akar itu harus dipotong dulu. Saya dibantu teman-teman mencari-cari pisau atau golok di sebuah gubuk kosong di pinggir jalan. Eh, ternyata saya menemukan sebuah golok. Mungkin bekas orang yang jualan di gubug itu.

Mulailah saya memotong akar pohon yang unik itu. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk memotong dan mangambil akar pohon itu. Setelah saya berhasil memotong akar pohon tersebut, kami berempat bergegas menuju tempat parkir bis.

Langit tampak mendung, sepertinya tak lama lagi akan turun hujan. Kami setengah berlari mendaki jalan setepak yang menanjak dan berkelok-kelok. Tak lama kemudian, hujan turun. Makin lama hujan makin lebat. Kami terus berlari agar segera sampai di lokasi.

Sesampainya di area parkir, dengan napas yang masih tersengal, kami berempat kaget bukan kepalang, bis yang tadi parkir di sana, sudah tak ada. Kami coba mencari-cari di area perkir lain, juga tak kami temukan. Kami berempat mengambil kesimpulan, bahwa bis yang membawa kami ke GTP sudah pulang dan kami ketinggalan.

Yang kami tak habis pikir, mengapa panitia study tour tidak mengabsen dulu dan memastikan semua siswa sudah masuk ke bis sebelum pulang?

Tapi kami berempat berpikir positif tentang kejadian unik ini. Kami anggap perjalanan pulang kami akan menjadi petualangan yang seru dan asyik.

"Gimana nih, kita pulang?" tanya Wawan.

"Ya udah, kita pulang cari tumpangan aja," kata Sunara.

Dua orang teman saya itu tergolong anak yang periang, cuek kadang nyeleneh. Beda dengan saya dan Epul yang serius dan pendiam.

Saya, Epul dan Wawan setuju dengan usul Sunara, kita berempat akan cari tumpangan untuk pulang. Dengan tubuh basah kuyup diguyur hujan, kami memulai petualangan pulang, meninggalkan Gunung Tangkuban Perahu nan indah dan eksotik.

Kami harus berjalan beberapa kilometer dari pusat obyek wisata kawah GTP ke jalan raya. Sesampainya di jalan raya, kami terus berjalan sambil sesekali menyetop truk dan mobil bak terbuka yang lewat. Akhirnya ada juga sopir yang baik hati memberi kami tumpangan.

Kami sampai berganti tiga kali tumpangan untuk sampai di rumah kami masing-masing yang beda desa tapi masih satu kecamatan, kecamatan Purwadadi kabupaten Subang.

Sesampainya di rumah sekitar jam 7 malam, orang tua saya panik, mencari saya kesana-kemari dan menanyakan ke teman-teman sekolah saya yang ikut study tour. Yang kasihan ibu, ketika saya sampai di rumah, dia sedang nangis, khawatir terjadi apa-apa dengan anaknya. Ketika melihat saya datang, ibu langsung memeluk saya sambil menangis haru dan bahagia.

Setelah kejadian itu, saya beberapa kali berkunjung kembali ke GTP dengan teman-teman. Kadang rombongan naik mobil atau menggunakan sepeda motor.

Kenangan Indah dengan Sang Kekasih

Lima tahun kemudian saya kembali berkunjung ke GTP. Kali ini bukan dengan teman sekolah tapi dengan teman istemewa, sang pujaan hati belahan jiwa, kekasih tercinta.

Kami pergi berdua dengan sepeda motor. Asyiknya naik motor berdua sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan indah di sepanjang perjalanan. Jarak yang jauh terasa dekat, bahkan terasa terlalu singkat.

Sesampainya di GTP, kami berjalan berdua bergandengan tangan menyusuri pinggiran kawah. Setelah capek menyusuri pinggiran kawah, kami duduk berdua di pinggir kawah, ngobrol dan bercanda sambil menikmati indahnya pemandangan di sekitar kawah. Udara yang dingin terasa hangat karena ada sang kekasih duduk disamping saya. Bau belerang yang menyengat terasa wangi bunga, karna hati saya berbunga-bunga.

Karena kecapaian, sang kekasih merebahkan diri di pangkuan saya. Dia tak peduli dengan pandangan orang-orang lewat dan duduk di sekitar kami berdua. "Dunia serasa milik berdua", memang bukan sekedar basa-basi, kami benar-benar merasakannya. Ooh...indahnya.

Kenangan Indah dengan Istri dan Dua Putri Kami

Libur lebaran kemarin, saya dengan istri dan dua putri kami (Vania dan Rahma) berkunjung kembali ke obyek wisata Gunung Tangkuban Perahu (GTP). Ini untuk pertama kalinya saya berkunjung ke GTP dengan anak dan istri.

Sedangkan dengan istri, ini kunjungan yang kedua kalinya. Kunjungan pertama kami berdua 13 tahun yang lalu saat kami masih pacaran, seperti yang saya ceritakan di atas. Jadi bagi saya dan istri ini kunjungan nostalgia, mengenang indahnya masa pacaran dulu.

Kami berempat berjalan-jalan menyusuri pinggiran kawah. Tidak banyak yang berudah sejak kunjungan terakhir kami 13 tahun yang lalu. Bedanya, sekarang area parkir di pusat obyek wisata sudah diperluas, pedagang suvenir dan makanan semakin banyak di sepanjang jalan pinggir kawah.

Kami tidak bisa berjalan cepat menyusuri pinggiran kawah, karena si kecil Rahma (4 tahun) kesulitan melewati jalan berbatu yang di beberapa bagian cukup terjal. Namun, Rahma tak mau digendong, dia tampak sangat senang meniti jalanan berbatu itu. Sesekali saya dan kakaknya harus membantu Rahma melewati batu besar yang tak bisa dia naiki.

"Mah, dulu kita duduk berdua di seberang sana, mamah masih ingat nggak?" tanya saya, sambil menunjuk ke arah pinggir kawah di seberang sana. Saya teringat kenangan indah masa pacaran 13 tahun yang lalu.

"Iya, ya, pah dulu kita jalan-jalan sampai ke sana," Kata istri, sambil tersenyum. Sepertinya dia juga teringat kenangan masa pacaran dulu ketika jalan-jalan dan duduk berdua di pinggiran kawah GTP.

Sekarang, kekasih yang sangat saya cintai itu sudah menjadi ibu dari dua puteri cantik buah hati kami.

Ketika kami sedang asyik menikmati pemandangan di sekitar kawah, Rahma merengek-rengek ingin naik kuda yang banyak lalu-lalang di jalanan. Setelah tawar-menawar dengan sang pemilik kuda, akhirnya Rahma dan Vania naik kuda berdua, jalan-jalan di sekitar kawah. Rahma tampak gembira dan sumringah bisa naik kuda seperti yang biasa dia lihat di Televisi.

Karena hari sudah semakin sore dan cuaca tampak mendung, walaupun belum puas menikmati indahnya panorama kawah GTP, sore itu kami memutuskan untuk pulang.

Jangan hanya membayangkan, silakan berkunjung ke Gunung Tangkuban Perahu. Ajak orang-orang yang anda cintai untuk ikut menikmat keindahan panorama dan suasananya.

Meski sudah sering berkunjung, saya selalu rindu ingin kembali.
Gunung Tangkuban Perahu yang penuh kenangan indah, suatu saat nanti saya akan kembali.


Tulisan tentang alam pegunungan ini diikut sertakan dalam "Lomba Blog Ekspedisi Cincin Api" dengan tema "Merapi" yang diadakan Kompas.com.
Jika anda berkenan mendukung tulisan ini, silakan klik di sini. Boleh hanya membaca, lebih bagus kalau menulis komentar dan lebih bagus lagi kalau memberi nilai (aktual, insfiratif, bermanfaat atau menarik). Terima kasih untuk dukungannya.