CurhatKita |
| Tidak Ingin Berkutat dengan Perasaan “Minder” dan “Tidak Mampu” ( Bagian 2, selesai) Posted: 11 Oct 2011 06:10 AM PDT Oleh Ema Amalia Curhat sebelumnya... Saat itu, di periode 1999-2001, hubungan dengan suami di rumah tidak sehat. Sementara di kampus saya ada masalah yang semakin membesar seperti bola salju, karena pola menyerang orang dengan kata-kata pedas juga diterapkan di lingkungan kampus. Bayangkan, ini pada orang-orang yang baru kenal, pada orang-orang yang harusnya saya hormati. Saya juga membawa nama institusi tempat saya bekerja, almamater, dan negara karena saya ke sana dengan beasiswa. Tetapi, saat itu pun, kemampuan deteksi saya terhadap masalah sudah sangat bias. Apalagi kemampuan untuk menyelesaikannya. Inginnya menyelesaikan, yang terjadi malah menambah parah. Apalagi ada hambatan perbedaan pola komunikasi dan budaya. Saat saya memutuskan untuk konsul ke psikiater dan psikolog (selalu jadi paket di sana), semua sudah terlambat. Saya mengalami mania pertama di musim dingin, akhir Januari 2001. Yang tidak dilakukan adalah konsul ke orangtua. Sampai saat ini, hal ini yang sering saya sesali. Sementara, suami sudah lepas tangan, karena dimata dia, selain saya suka mengeluarkan kata-kata yang tajam, saya sudah "pindah ke lain hati" dengan seseorang di kampus saya. Kampus kami berjauhan sekali, berjarak 1,5 jam dengan kereta. Suami berangkat jam 6 pagi dan pulang jam 10 malam. Anak seharian di penitipan anak. Dimata saya pun, waktu itu, seseorang di kampus itu adalah seseorang yang istimewa. Tetapi, kalau dipikir sekarang, mungkin nggak sampai segitu. At least, saya yang GR alias Gede Rasa. Mungkin yang tepat, saya senang dapat mentor dia. Kagum kalau dia ganteng kayak berdarah campuran, pintar dan kami ingin berteman baik. Dia sendiri, mungkin juga serba salah, karena satu hal yang kadang saya pikir remeh… ya, karena saya pakai jilbab. Sesuai maksudnya, saya bersyukur jilbab saya memang jadi "pelindung" untuk saya. Terus dengan segala pantangan yang datangnya dari agama yang saya anut. Tidak makan daging babi dan tidak minum alkohol. Sebagaimana diketahui, jika ada pesta tahunan laboratorium, suka ada acara "minum", dan teman-teman di kampus maupun profesor baik, mereka selalu menanyakan apa yang nggak boleh dan menyediakan jus dan hidangan ikan. Tetapi, suami saya mana juga bisa disalahkan, kalau dipikir sekarang, jika dia lebih lari lagi dan lebih "menyiapkan" untuk pergi di belakang saya. Saya suka cerita dengan antusias dan memperlihatkan foto-foto kegiatan bersama di kampus. Kalau difikir sekarang, setelah 11 tahun didiagnosis bipolar disorder, sikap saya ini jelas suatu gejala bipolar disorder. Ada satu pameo di kalangan ODB (Orang dengan Bipolar Disorder), yaitu "bagaimana membedakan ini saya yang sejati dan ini saya yang lagi terganggu gejala bipolar disorder?" Ini sulit, bahkan untuk diri-sendiri. Apalagi bagi orang lain. Saya menulis inipun, bisa jadi sedang terganggu gejala hypomania. Tetapi, sekarang ini saya dibantu obat teratur. Dan, saya pernah membaca ada seorang schizophrenia sekalipun sembuh, karena kalau lagi "jadi" alias histeris, dia melepaskannya dengan berteriak sekuat tenaga ke bantal, menulis, dan tidak dengan menaikkan dosis obat. Dia akhirnya sembuh, sekolah lagi, dan menjadi profesor di bidang kesehatan jiwa. Begitu pula yang terjadi pada Pak Tarjum, kan? Pak Tarjum pernah mengidap bipolar dan berhasil sembuh. Saya ingin begitu, dan kelihatannya kuncinya adalah dengan berusaha melepas hal-hal negatif yang terperangkap di jiwa dengan cara yang positif. Singkat cerita, waktu di luar negeri itu, hubungan sosial di kampus jadi rusak. Karena saya sering marah-marah via email. Lalu, gejala megalomania mulai muncul. Gejala megalomania adalah waham kebesaran. Yang suka saya merasa miris, sekarang setelah lebih faham dan cukup berpengalaman hidup dengan bipolar adalah, penyakit ini merusak kesempatan saya untuk punya masa depan "cemerlang". Energi saya di kampus hanya habis untuk bertengkar dengan orang, dan hubungan baik yang seharusnya terjalin, malah rusak dan nyaris permanen. Upaya saya memperbaiki ini di periode 2003 – 2005 malah makin membuat bipolar disorder saya lebih parah. Dan, hubungan baik di insitusi saya bekerja juga ikut rusak. Bagaimanapun, orang punya batas maklum dan sedikit banyak berita menyebar… Ada lho, kenalan lama yang kalau ketemu pura-pura nggak kenal dan melengos. Ada yang mengkritik dengan kata-kata yang tajam… Sekarang saya berusaha mengolah hal-hal demikian itu sebagai energi untuk memperbaiki diri agar bisa melakukan hal-hal yang positif. Saya tidak berhasil menyelesaikan tesis S2 di luar negeri karena keburu harus masuk rumah sakit akibat histeris di rumah pada tengah malam. Tapi saya bersyukur, tesis ini bisa diselesaikan di Indonesia. Di luar negeri sana, tetangga berhak menelepon ambulan untuk membawa saya ke rumah sakit. Psikiater di sana mensyaratkan yang boleh menengok dan membawa saya pulang ke rumah sakit adalah orangtua saya. Orangtua saya datang ke sana, alih-alih menemani saya wisuda–rencananya sampai S3 dan udah lulus ujian masuknya–malah harus menjemput saya ke rumah sakit. Sebelas tahun terakhir adalah masa guncangan yang luar biasa untuk keluarga kami. Ayah saya menua dengan cepat secara fisik, demikian juga Ibu saya. Masa mania adalah masa yang paling tidak diinginkan, karena saya tidak bisa kemana-mana, apalagi mengurus anak. Tahun 2003, saya dan suami resmi bercerai. Dia nikah lagi dengan segera dan dia lulus S3 sesuai rencana kemudian bekerja jadi dosen di salah satu universitas terkemuka di Malaysia dan wafat tahun 2010 lalu. Anak ikut saya, dan setelah dia baligh di usia 11 tahun, kalau ditanya, selalu dia bilang, ingin ikut saya dengan ditopang oleh Ayah saya dan Ibu saya. Dia tidak merasa nyaman dengan Ayahnya almarhum maupun keluarga dari pihak Ayahnya. Buat saya, ini saya syukuri sekali, karena dengan wafatnya dia, anak saya tidak harus mengalami guncangan berat karena memang sejak awal ikut saya. Saya tidak menyangka bisa menulis sepanjang ini. Mudah-mudahan tidak apa-apa, ya, Pak Tarjum. Saya menulis ini dengan harapan ini suatu cara agar hal-hal negatif yang terus berkutat di jiwa saya mengalir keluar. Saya bersyukur, bahwa akhir-akhir ini hubungan saya dengan orang-orang masa lalu saya di luar negeri sudah bisa dibilang pulih. Kesalahfahaman sudah terurai dan hubungan secara profesional juga sudah terentang kembali. Tugas berat yang menghadang di depan adalah menjaga kepercayaan dari rekan-rekan kerja yang sudah setahap demi setahap pulih. Juga, untuk lepas dari tanggung jawab orangtua sebagai seorang single mother. Selama ini sih, udah 5 tahun saya dibantu secara moril dan financial oleh ortu dan keluarga. Demikian pula, semoga saya tidak mengalami periode mania lagi agar tugas mendidik anak dan mengurus rumah tidak tertumpu pada Ibu saya dan pembantu rumah tangga yang udah semakin tua. Saya ingin lebih mandiri bahkan kalau bisa berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain. Sesuai judul tulisan ini, walaupun Sudah 6 tahun nyaris vakum karena trial and error untuk bisa hidup berkah dan produktif sebagai ODB (Orang dengan Bipolar), saya tidak ingin lagi merasa "tidak mampu" atau "minder" karena segala hal kekurangan berkaitan dengan Bipolar. Saya ingin semangat berjuang dan berikhtiar sampai saya pulih. Saya ingin percaya diri dengan menyandarkan pada keMaha Kuasaan Allah Swt. Dan, sesudah berikhtiar, bersyukur dan bersabar pada tempatnya. Ini agar saya lulus pada pelajaran berat untuk menghayati "iman pada takdir" selama lebih kurang 15 tahun ini. Iman pada takdir memang berat pada saat hal-hal yang tidak diharapkan dan tidak menyenangkan menimpa. Sementara, perasaan "tidak mampu" dan "minder" juga adalah bentuk tidak syukur pada banyak hal positif yang masih saya miliki dan masih bisa dimanfaatkan untuk menjadi solusi bagi masalah diri sendiri dan juga orang lain. Juga, kedua perasaan negatif itu bisa jadi bentuk pengamalan yang buruk dari "iman pada takdir". Mudah-mudahan kedepannya saya bisa melangkah lebih ringan dan hati saya dilapangkan oleh Allah Swt. untuk beraktivitas yang bermanfaat. Baik sebagai diri sendiri, sebagai ibu, sebagai anak, sebagai pekerja, dan sebagai anggota masyarakat. Dan, saya ingin eksis di tempat pekerjaan sebagai seorang yang profesional dan menjadi ibu yang profesional juga di rumah. Amiin. Bandung, 08 Oktober 2011 Anda sekalian bisa berkomunikasi langsung dengan penulis artikel ini via email dan akun fb nya. Penulis : Ema Amalia Email : ema.amalia@gmail.com Facebook : http://www.facebook.com/ema.amalia |
| You are subscribed to email updates from Curhatkita To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
No comments:
Post a Comment